Aku semakin sayang ibuku

Kehamilanku ini sering mengingatkan masa kecilku yang penuh kenakalan. Tiap aku sendirian, atau aku lagi merasa lelah karena semua harus aku lakukan sendiri, justru saat itulah aku teringat dengan ibuku waktu mengandung adekku. Saat itu mungkin aku udah 5 tahun lebih, karena adekku lahir waktu aku umur 5 tahun 7 bulan, ya kuhitung dari jarak lahirku dengan lahirnya adekku. Aku bisa membayangkan umurku yang 5 tahun lebih itu kurasa ya seperti anak – anak 5 tahun sekarang ini, artinya udah ga bisa dibilang kecil lagi dan udah pantas masuk PAUD atau taman kanak – kanak. Harusnya sudah tidak pantas untuk minta gendong karena ibuku pasti capek kalo gendong aku yang sudah lima tahun. Tapi hal itu baru aku sadari sekarang…ya sekarang saat aku merasakan seperti apa keadaan mengandung itu. Sungguh anak yang tak tahu diri. Dan aku merasa menyalahkan diriku sendiri kenapa baru saat ini kusadari.

Waktu ibuku mengandung adekku dan aku ingat betul kandungannya sudah membesar, aku masih sering rewel dan suka minta gendong ibuku. Moment yang selalu kuingat sampai sekarang dan setiap ingat itu aku selalu pengen nangis dan merasa sangat bersalah pada ibu, saat itu bapak dan ibuku masih tinggal di rumah nenek, dan bapak ibuku sedang membuat rumah kecil –kecilan untuk ditinggali oleh kami yang juga masih satu kampung dengan rumah nenekku. Saat ibu mau mengantarkan makan siang buat para tukang aku merengek minta ikutan. Kami jalan kaki dengan tangan ibuku yang sebelah menggandengku dan tangan sebelahnya lagi membawa bekal makan siang buat tukang. Aku yakin pasti ibuku sangat capek sekali tiap hari seperti itu, apalagi rumah yang mau dibangun agak jauh dari rumah nenek dan setiap hari harus berjalan kaki untuk mengantar bekal. Di tengah perjalanan aku merasa capek dan merengek untuk minta gendong ibuku (aku baru sadar betapa nakalnya aku waktu kecil dulu). Dan ibuku langsung menggendong aku dengan tangan yang buat menggandeng tanganku tadi (bayangkan menggendong aku hanya dengan satu tangan, karena tangan satunya menenteng bekal makan siang dan dalam keadaan perut yang sudah besar mengandung adekku). Namun tak lama kaki ibuku melangkah ibuku terpeleset rumput dan kami pun jatuh bersama. Tempat kami jatuh sebenarnya sudah dekat dengan lokasi pembuatan rumah dan saat itu bapakku mengetahui kejadian itu. Sudah jelas aku dimarahi bapak dan aku menangis sekencang – kencangnya. Namun yang membuat aku sedih sekarang bukan karena aku dimarahi bapak, karena aku menyesal dan sangat menyesali kejadian itu. Betapa tidak menyesal, aku sendiri saat ini apabila membawa beban agak berat rasanya mudah sekali kepayahan dan capek. Apabila berjalan agak jauh juga cepat ngos ngosan. Akupun juga ga berani menggendong anak – anak temanku yang masih bayi sekalipun karena takut kena perutku atau apa. Tapi entahlah kalo kehamilanku yang ke-2 nanti ternyata anak pertamaku juga masih suka minta gendong. Jadi aku benar – benar merasakan betapa payahnya keadaan ibuku saat itu. Tapi aku tak pernah sedikitpun melihat ibuku mengeluh.

Maafin aku ya ibu atas kenakalanku waktu kecil. semoga ibu selalu diberi kesehatan dan panjang umur hingga dapat menyertai cucu dan cicitmu nanti menggapai sukses di masa depan. Maafkan aku ibu karena anakmu ini baru menyadari setelah merasakan kodratnya sebagai seorang wanita. Aku semakin sayang ibu. Dan aku ingin selalu bersamamu dunia akhirat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s